"if you are listening to this you are one of the reasons why"
Ini baru pertama kalinya aku nonton serial barat sampe abis. Yah, jujur aku gak terlalu atau bahkan gak sama sekali ngikutin serial-serial barat. Padahal sih sebenernya "katanya" banyak yang bagus, yah contohnya kayak Gray Anatomy, Friends dan serial lain yang aku gak tau haha. Ada sih dulu pernah nonton How I Met Your Mother yang lucu banget, parah. But karena episode yang banyak banget dan nggak tamat-tamat, aku cuma nonton beberapa episode aja. Dan selama kurang lebih 3 tahun, How I Met Your Mother jadi satu-satunya serial barat yang aku nonton, sampai akhirnya aku nonton 13 Reason Why. Yang mana genre kedua serial itu beda banget, yang satu komedi gak karuan dan yang lain adalah misteri.
Nonton serial barat selalu dimulai dari keisengan dan ketidaksengajaan. Dulu waktu nonton How I Met Your Mother gara-gara stok drama korea udah abis ( iya aku pecinta drama korea banget wkwk) dan gak sengaja nyalain TV terus di salah satu channel nanyangin itu. Dan sejak itu How I Met Your Mother jadi tontonan sore di TV yang asik banget. Campuran romantis, komedi, kegoblokan yang hakiki para pemainnya bikin hidupku makin tidak berfaedah. Tapi itu semua gak bertahan lama karena aku waktu itu harus persiapan UN dan masuk kuliah, jadinya tau-tau udah tamat aja tuh serial kesayangan.
Awal nonton 13 Reason Why juga diawali dari stok drama korea yang udah abis dan drama yang ditunggu-tunggu belum tayang. Akhirnya aku internetan gak jelas sampai akhirnya nonton FBE React, salah satu channel youtube yang selalu aku tonton kalo lagi suntuk, Dan yang lagi dibahas di salah satu videonya adalah tentang "Teen React To 13 Reason Why". Karena penasaran, aku akhirnya nonton serial ini dengan males-malesan. Dalam pikiran sih, yah coba nonton 1 episode ajalah yang penting tau ceritanya gimana. Ternyata 1 episode itu nggak cukup untuk tahu cerita yang sebenernya tentang Hannah Baker, tokoh utama serial ini.
13 Reason Why menceritakan tentang Hannah Baker, anak SMA yang mati karena bunuh diri. Sebelum mati, Hannah merekam suaranya di 7 double-sided cassette tapes yang diberikan secara estafet ke orang-orang yang bikin dia memutuskan untuk bunuh diri. Dan itu digambarkan dalam tagline serial ini yaitu "if you are listening to this you are one of the reasons why". Gila sih, jujur aku merinding dikit pas denger tagline ini di teaser serialnya (alay banget yak, tapi serius).
Tema yang diambil emang bikin depresi banget, tentang bunuh diri. Selama yang aku tau kalo ada tema cerita tentang bunuh diri pasti kalo nggak mati karena cinta (macam Romeo n Juliet), mati terus jadi hantu gentanyangan, bunuh diri tapi sebenernya dibunuh, atau nggak mati bunuh diri tapi sebenernya masih hidup, dan cerita aneh-aneh lain. 13 Reason Why jadi satu-satunya cerita yang aku tonton yang murni ngasih gambaran tentang bunuh diri secara realistis mungkin, yang bikin aku dibeberapa episode mikir " Iya sih, kalo aku jadi Hannah dan dalam agama bunuh diri itu boleh, kayaknya aku bakal gitu juga". Wkkwk pikiran yang konyol. Tapi memang 13 Reason Why itu dibuat relatable banget dengan kehidupan nyata jadi yah kita bisa paham banget perasaan Hannah di cerita tersebut. Karena yang terjadi ke Hannah itu memang terjadi dikehidupan nyata, yah walaupun gak semua.
Banyak yang bilang kalo karakter Hannah ini agak baperan dan drama queen. Soalnya dia bisa nginget kesalahan orang lain secara detail yang menurut orang lain sepele dan dibesar-besarin. Aku sih awalnya juga mikir gitu, tapi terus aku jadi sadar bahwa kadar perasaan tiap orang itu beda-beda. Sesuatu hal yang menurut kita penting, kadang (atau bahkan sering) ditanggapi orang lain dengan "idih lebay amat dah, gitu aja dipikirin". Atau mungkin kita yang sering menyepelekan masalah orang lain. Yah, itu semua wajar sih karena tiap orang punya cara berpikir, masalah dan pengalaman hidup yang ngasih pengaruh ke pola pikir mereka masing-masing. Contohnya ada anak kecil nangis karena permennya jatuh. Bagi kita orang dewasa mikirnya ya, "ya elah cuma permen doang, ntar juga bisa beli lagi". Tapi buat anak kecil itu masalah yang serius karena yang bikin dia seneng hilang, dan dia gak tau bisa dibeliin permen lagi atau nggak. Jadi bukan anak kecil itu yang baperan atau drama queen. Tapi memang batas berpikirnya dia cuma sampai disitu doang. Begitupun dengan Hannah.
Hannah itu menurut aku orang yang terbuka tapi tertutup (loh). Iya dia cenderung orang yang friendly, murah senyum, dan ramah. Tapi disisi lain dia juga tertutup, dia gak bisa atau mungkin nggak punya tempat untuk mencurahkan isi hatinya dan cerita tentang masalah-masalahnya bahkan ke orang tuanya sendiri. Hal itu yang bikin orang tua Hannah adalah yang orang paling bingung di serial ini kenapa anaknya bunuh diri. Karena Hannah selalu ceria dan seneng-seneng dihadapan mereka. Tapi ternyata kadang orang yang paling ceria adalah orang yang paling sedih.
Kanapa nggak cerita ke temen? katanya friendly pasti temennya banyak dong. Iya Hannah orang yang gampang berteman, bukan sosok kuper yang gak punya kenalan siapa pun. Tapi gak semua temen itu setia dan bisa dipercaya kan?. Banyak yang didepan kita baik banget dan deket, terus dibelakang kita njelek-njelekin minta ampun. Banyak juga yang menganggap temen itu sebagai saingan, jadi yah kasarannya "kita temenan tapi levelmu tuh masih dibawah aku", ada juga temen yang iri lihat temenya sukses, nah mereka ini punya motto " gagal bareng, sukses bareng, ketawa bareng, tapi kalo kamu doang sukses aku gak rela". Dan model-model temen macam itu banyak ada di kehidupan nyata juga. Jadi kalo temen-temen Hannah kayak gitu, dia mau cerita ke siapa. Yah, adasih beberapa temen yang perhatian tapi kalo kata Hannah mah, "some of you care, but none of you care enough". Dan ini juga relatable banget, karena nyari temen yang bener-bener care itu susah. Apalagi usia udah makin tua, tiap orang makin banyak punya urusannya sendiri-sendiri sehingga terpaksa secara nggak sadar jadi nggak begitu care sama temen sendiri.
Jadi intinya serial ini bikin kita sadar bahwa peduli sama orang lain itu perlu. Peduli yang bener-bener peduli. Karena bisa aja orang yang putus asa itu temen kita sendiri, sahabat kita sendiri, orang tua kita sendiri, anak kita sendiri, atau bahkan diri kita sendiri. Dengan peduli kita bisa jadi reason untuk orang lain hidup, atau mungkin reason untuk kita sendiri hidup. Karena bunuh diri tidak pernah jadi pilihan bagi seseorang kalau masih ada yang benar-benar peduli.
Komentar
Posting Komentar